News Flash

Menu

Lion Air Masih Batalkan 14 Penerbangan

Hasil gambar untuk Ombudsman Republik IndonesiaKeputusan Lion Air membatalkan sejumlah penerbangan sejak Jumat sore (20/2) sempat diharapkan mampu memutus mata rantai keterlambatan (delay). Namun, persoalan layanan tak lantas selesai sampai di situ. Sejumlah penerbangan Lion Air Sabtu (21/2) juga sempat terkena imbasnya meski tidak sampai menimbulkan gejolak seperti tiga hari sebelumnya.

Berdasar informasi yang diperoleh Jawa Pos, di antara sejumlah penerbangan Lion Air, masih saja ada yang delay, bahkan canceled (dibatalkan). Tercatat, di Terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta (Soetta), sedikitnya ada 14 penerbangan Lion Air yang kemarin dibatalkan. Alasannya bukan pesawat rusak atau terlambat datang. Namun, memang tidak ada pesawatnya.
Pembatalan diumumkan lewat pesan singkat ke tiap penumpang sehingga mereka tidak perlu datang ke bandara. Kompensasi refund (pengembalian biaya tiket) otomatis dilakukan seperti biasa melalui transfer. Ada pula penerbangan di satu tujuan yang digabung. Ada sebagian penumpang yang membatalkan penerbangan karena trauma atas kejadian delay parah. Kekosongan kursi penumpang itu diberikan kepada korban keterlambatan tiga hari terakhir yang melakukan penjadwalan ulang. Penjadwalan ulang yang direncanakan antara Senin (23/2) hingga Rabu (25/2) dimajukan.

Kemudian, di terminal 3, hingga pukul 14.00 kemarin, ada 12 pesawat Lion Air yang berangkat. Dari jumlah tersebut, tiga di antaranya mengalami delay. ”Tapi, delay-nya masih kategori normal. Tidak seperti beberapa hari terakhir,” ujar salah seorang petugas di terminal 3.

Kategori normal yang dimaksud adalah keterlambatan 1 hingga 2,5 jam. Di antaranya penerbangan pagi JT 544 tujuan Jogjakarta. Dari jadwal terbang pukul 05.35, pesawat baru take off (lepas landas) 06.26 (terlambat 51 menit). Lalu JT 028 tujuan Denpasar, jadwal terbang pukul 08.10, namun take off 10.17 (2 jam 7 menit). Yang terakhir JT 534 tujuan Solo, jadwal terbang pukul 11.30, tapi baru berangkat 12.23 (53 menit).

Di sisi lain, proses refund penumpang hingga kemarin masih berlangsung. Di terminal 3 sejak pagi penumpang antre untuk pengembalian tiket. Lokasi refund berada di konter Lion Air dekat pintu keberangkatan.

Susanto, salah seorang penumpang, mengatakan kena delay sejak Kamis (19/2). ”Mau ambil barang nggak bisa karenasudah dibawa ke Lombok,” ujarnya kemarin. Rupanya, pada Jumat besoknya ada pesawat yang mengangkut bagasinya ke Lombok. Dia lalu mendatangi kantor Lion Air pusat untuk meminta refund, namun dijanjikan satu bulan. Akhirnya kemarin Susanto mendatangi terminal 3 dan berhasil mendapatkan refund plus kompensasi keterlambatan untuk tiga orang.

Sementara itu, Dirut PT Angkasa Pura (AP) II Budi Karya Sumadi menjelaskan, kondisi Bandara Soetta secara umum sudah kembali normal. Memang masih ada beberapa keterlambatan penerbangan, namun masih dalam batas wajar. ”Yang kami siagakan justru besok sore (hari ini, Red) dan Senin pagi karena akhir masa liburan,” terangnya saat ditemui di sebuah diskusi di Jakarta kemarin.

Secara umum, Budi menilai insiden delay berkepanjangan Lion Air tidak lepas dari pengaruh peak season, ditambah kendala operasional. Sebagai contoh, dengan dua pesawat saja, satu maskapai bisa melakukan 16 penerbangan dalam sehari. Maka, ketika ada kerusakan, dampaknya juga besar.

Untuk itu, Budi berharap regulator –dalam hal ini Kementerian Perhubungan (Kemenhub)– memperjelas regulasi, termasuk soal pencadangan pesawat, agar kejadian serupa tidak sampai terulang. Yang jelas, secara umum Lion Air cukup patuh terhadap aturan main yang diterapkan AP II.

Disinggung soal kemungkinan kerugian materiil yang dialami AP II terkait kejadian tersebut, Budi tidak menjawab eksplisit. Menurut dia, maskapai tentu harus membayar sejumlah dana untuk mendapatkan layanan bandara. Jadi, pendapatan AP II hilang ketika ada pembatalan penerbangan.

Head of Corporate Secretary Lion Group Capt Dwiyanto mengklaim bahwa penerbangan Lion Air mulai kemarin sudah kembali normal dengan tingkat on time performance (OTP) di atas 85 persen. ”Memang masih terdapat beberapa penerbangan Lion Air yang mengalami delay karena alasan operasional,” ungkapnya kemarin.

Lion Air berupaya meminimalkan kekacauan jadwal penerbangannya, terutama dengan mengeset ulang jadwal yang ada dengan membatalkan seluruh penerbangannya pada Jumat lalu mulai pukul 17.00 sampai 00.00. Seluruh jadwal penerbangan kemudian coba dijalankan seperti biasa mulai pukul 00.01 Sabtu. ”Setelah memutuskan untuk menghentikan seluruh penerbangan Lion Air sampai pukul 00.00, kami pastikan bahwa mulai Sabtu seluruh penerbangan Lion Air akan berjalan sesuai jadwal (normal),” kata Dwiyanto menjanjikan.

Terkait kasus amburadulnya jadwal penerbangan Lion Air, Ketua Umum Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi menerangkan, tidak semua keluhan mengenai Lion Air disampaikan kepada pihaknya. Namun, keluhan atas maskapai tersebut memang cukup banyak.

”Yang jelas, pengaduan konsumen Lion Air itu di YLKI ranking tertinggi pada 2014 (dibanding maskapai lain, Red),” ujarnya saat dikonfirmasi kemarin. Secara keseluruhan, Lion Air menempati peringkat keempat dari semua jenis keluhan yang diterima YLKI.

Terpisah, Ombudsman RI turun tangan menyikapi karut-marut pelayanan Lion Air. Tim investigasi Ombudsman kemarin diturunkan untuk menelusuri apakah ada maladministrasi dalam pelayanan publik di bidang penerbangan. Sebab, kasus itu tentu tak bisa dipisahkan dari Kemenhub, khususnya Ditjen Perhubungan Udara.

Wakil Ketua Ombudsman RI Budi Santoso mengatakan, tim investigasi akan menelusuri kekacauan dengan melihat standar pelayanan yang ada. Misalnya meliputi manajemen penerbangan yang dilakukan operator penerbangan dan manajemen kebijakan (regulasi) yang ada di tangan Ditjen Perhubungan Udara selaku operator.       

”Tim sudah turun sejak siang ini (kemarin) dan akan bekerja sampai Senin pekan depan (besok),” ujar Budi. Tim yang diketuai Hendra Nurcahyo tersebut diturunkan untuk menindaklanjuti laporan masyarakat dengan melihat secara langsung yang terjadi di Soetta.       

Ombudsman melihat seharusnya Kemenhub tidak membiarkan persoalan tersebut berlarut-larut. Mereka juga diminta tak hanya memperhatikan sisi bisnis penerbangan, namun juga keselamatan penumpang. Apalagi, tersiar kabar bahwa kekacauan itu disebabkan adanya beberapa pesawat yang rusak dan pemogokan awak pesawat. 

Kasus tersebut sebenarnya tak perlu terjadi jika unsur dari Kemenhub dan maskapai bisa mengantisipasi lonjakan penumpang saat libur Hari Raya Imlek. ”Kalau yang terjadi misalnya karena ada kerusakan pesawat, seharusnya kan sudah diantisipasi dengan pesawat pengganti,” tutur Hendra, anggota Ombudsman RI bidang penyelesaian laporan.

Ombudsman juga akan menginvestigasi proses pemberian kompensasi yang sudah diatur dalam peraturan menteri perhubungan (permenhub). ”Kami akan cek apakah sudah memenuhi prosedur sesuai aturan yang berlaku atau tidak,” tegasnya. Menurut Hendra, aturan soal pemberian kompensasi sudah jelas dalam Permenhub 25/2008 dan Permenhub 77/2011.

Aksi anarkistis para penumpang juga mengindikasikan bahwa pelayanan pengaduan di Soetta tidak berjalan baik. Hal itu juga yang akan menjadi bahan investigasi tim Ombudsman. Hendra menuturkan, seharusnya setiap bandara mengoptimalkan ruang pengaduan atau customer complaint handling unit.


Share This:

Post Tags:

No Comment to " Lion Air Masih Batalkan 14 Penerbangan "

  • To add an Emoticons Show Icons
  • To add code Use [pre]code here[/pre]
  • To add an Image Use [img]IMAGE-URL-HERE[/img]
  • To add Youtube video just paste a video link like http://www.youtube.com/watch?v=0x_gnfpL3RM