Ingat Waktu Pilpres, Presiden Jokowi: Dulu Saya Dipanggil Bawaslu ‘Kemringet’
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan kisah menarik, terutama
yang terkait dengan peran Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), saat menjadi
calon presiden pada Pemilihan Presiden (Pilpres) tahun 2014 lalu.
Presiden melanjutkan, saat itu ia hadir dengan deg-degan, terlebih saat anggota Bawaslu Nelson Simanjntak mengajukan pertanyaan kepadanya.
“Saya ditanya, apakah Bapak menyampaikan kalimat ini?. Seingat saya
iya,” ungkap Jokowi seraya menyebutkan, banyak sekali pertanyaan yang ia
jawab apa adanya saja. “Ternyata, tidak ada masalah. Kalau ada masalah
juga pasti menjadi ramai pada saat itu,” kata Jokowi lagi yang disambut
senyum anggota Bawaslu.
Intinya, lanjut Presiden Jokowi, ia memuji ketegasan dari Bawaslu.
Yang tentu saja dengan ketegasan dan integritas yang ada itu dihormati
oleh calon presiden (Capres) dan calon wakil presiden (Cawapres)
Presiden meyakini, di daerah juga sama. Asal ada ketegasan itu, dan
peserta pemilihan kepala daerah (Pilkada), peserta pemilu juga merasa
bahwa Bawaslu pada posisi yang betul-betul netral, semuanya akan
memberikan respect.
“Dipanggil siapapun pasti akan datang. Dan kalau tidak datang, asal
ditegasi pun saya kira akan menerima. Karena memang itulah tugas
Bawaslu, mengawasi penyelenggaraan pemilu, juga menerima laporan-laporan
pelanggaran, menerima laporan dugaan pelanggaran administrasi, dan juga
menyesuaikan sengketa-sengketa pemilu,” jelas Kepala Negara.
Presiden Jokowi bersyukur, bahwa Pilpres kemarin yang sebelumnya
menjadi tanda tanya, apakah berakhir dengan mulus atau dengan sebuah
kerusuhan, akhirnya semuanya happy ending.
“Akhirnya kita melihat, bahwa memang masyarakat kita juga
partai-partai, juga peserta semuanya sudah dewasa dalam politik. Dan itu
betul, memang diapresiasi oleh negara-negara lain. Kepala-kepala negara
yang bertemu dengan saya menyampaikan apresiasi itu,” ungkap Jokowi.
Presiden menilai, hal itu tidak terlepas dari penyelenggara pemilu,
Bawaslu maupun Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang betul-betul berada pada
posisi yang menurut persepsi masyarakat, netral dan mempunyai
integritas yang tinggi terhadap pekerjaannya.
Menanggapi permintaan yang disampaikan Ketua Bawaslu Muhammad agar
lembaga itu memiliki gedung sendiri, Presiden Jokowi mengatakan, bahwa
sekarang ini pihaknya baru melakukan proses moratorium untuk pembangunan
semua gedung pemerintah.
Tetapi diakuinya, bisa saja dilakukan atas izin atas persetujuan
presiden. “Pada hal-hal yang sangat diperlukan dan itu merupakan sesuatu
yang urgent memang diperbolehkan. Tetapi tidak terus semuanya
bangun gedung, semua minta gedung. Sehingga infrastrukturnya justru
menjadi nomor dua atau tiga yang dibutuhkan rakyat,” jelas Presiden
Jokowi.
Menurut Presiden Jokowi, gedung perlu, tetapi harus betul-betul
dilihat urgensinya. “Kalau memang misalnya, seperti tadi gedung Bawaslu
provinsi, menurut saya kalau gedung KPU ada, semestinya Bawaslu juga ada
yang di provinsi. Kalau seperti ini tidak apa-apa,” jelasnya.
Kalau misalnya gubernur sudah menyiapkan lahan tanahnya, lanjut
Presiden, juga tidak ada masalah untuk yang provinsi. Tapi kalau gedung
keuangan untuk Bawaslu, Presiden menilai belum melihat keperluannya.
Tampak mendampingi Presiden Jokowi dalam kesempatan menerima anggota
Bawaslu itu antara lain Menko Polhukam Tedjo Edhi Purdijatno, Menteri
Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, dan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg)
Pratikno.
.png)

























No Comment to " Ingat Waktu Pilpres, Presiden Jokowi: Dulu Saya Dipanggil Bawaslu ‘Kemringet’ "